Revolusi Agama, Modernitas, dan Pasar

Revolusi Agama, Modernitas dan Pasar

Khamami Zada

Profesor Universitas Boston, Peter L. Berger (2003:17) menegaskan, “meski modernisasi membawa pengaruh sekularisasi hampir di seluruh tempat, tetapi pada saat yang sama, modernisasi sendiri telah membangkitkan gerakan-gerakan sekularisasi tandingan yang kuat (powerful movements of counter-secularization).” Pernyataan ini terkait dengan sikap umat beragama dalam melihat modernitas dan sekularisasi, baik yang menyikapinya sebagai musuh maupun yang menyikapinya secara realistik. Bagi penentangnya, di manapun modernisasi dan sekularisasi tumbuh, mereka berupaya menentangnya. Di sisi lain, bagi umat beragama yang bersikap realistik, modernitas dipandang sebagai suatu pandangan dunia yang tak bisa dielakkan untuk mengadaptasinya.

Tanpa memetakan kedua kelompok umat beragama dalam menyikapi modernisasi dan sekularisasi, umat Islam telah melakukan perubahan besar. Apa yang dipikirkan Berger sebagai ”revolusi agama” (religius revolution) tampaknya terlihat jelas ketika umat Islam berusaha mengubah masyarakat secara keseluruhan dan menghadirkan model agama modern tandingan dengan melibatkan modernisasi sebagai daya dorong. Model ini hendak menyatakan bahwa modernisasi ditangkap sebagai peluang untuk melakukan revolusi keagamaan; doktrin, tradisi, dan spirit.

Sayangnya, revolusi agama diterjemahkan umat Islam di Indonesia sebagai menghadirkan agama dalam cara pandang kapitalisme. Karena itu, yang muncul adalah kapitalisme agama yang mendasarkan pada pasar dan modal. Fenomena paling nyata dalam persoalan ini adalah bagaimana agama berselingkuh dengan kapitalisme, modal, dan pasar, terutama dalam industri hiburan. Beberapa tahun belakangan ini kita disuguhi fenomena maraknya sinetron-sinetron relijius dalam tema azab kubur, hidayah, dan kesalehan relijius. Sinetron-sinetron ini tidak hendak menghadirkan aspek pendidikan kepada masyarakat, melainkan imajinasi-imajinasi relijius. Padahal, fenomena ini tidak begitu menonjol di tahun-tahun sebelumnya. Dan yang paling menghebohkan lagi adalah booming film Ayat-Ayat Cinta (AAC) yang ditonton jutaan orang di bioskop-bioskop.

Film AAC telah mengukir sukses besar. Tercatat lebih dari 2,6 juta penonton semenjak awal penayangannya 28 Pebruari 2008 di bioskop. Dalam sejarah perfilman Indonesia, inilah sukses besar yang telah diraih film relijius. Sebelumnya, sudah ada film-film relijius, seperti Cut Nyak Dien, Alkautsar, Titian Serambut Dibelah Tujuh, dll. yang ditayangkan di bioskop. Namun, film-film ini tidak mampu meraih sukses sebesar Film AAC. Barangkali hanya Rhoma Irama yang terbilang sukses pada zamannya dalam setiap filmya yang membawa nuansa relijius, seperti Nada dan Dakwah.

Di balik cerita sukses yang telah diraih film AAC, sebenarnya ada cerita-cerita menarik yang menghiasinya, terutama para penontonnya. Hampir dipastikan biasanya, para penonton film bioskop adalah anak remaja kosmopolit-sekuler. Mereka adalah generasi remaja modern yang akrab dengan dunia entertainment, gemerlap, dan serba wah. Kehidupan mall menjadi arena pergaulannya, sehingga bioskop di Jakarta pun diletakkan dalam mall. Dengan kata lain, mall dan bioskop adalah ruang modernitas-sekuler. Nah, dalam film AAC ada sesuatu yang menarik yang tidak dijumpai dalam bioskop. Yakni, para penonton yang berjilbab besar, berjenggot, mengenakan baju koko, dan celana panjang yang dilipat ke atas. Anak-anak di bawah umur pun dibawa para orang tua, bak kampanye partai politik yang biasa kita lihat dalam setiap Pilkada dan Pemilu.

Fenomena ini tentu unik. Orang biasanya takut masuk bioskop karena khawatir dianggap tidak Islami. Dalam film AAC, sepertinya mereka tidak ada kekhawatiran dianggap tidak Islami dan tidak berakhlak. Malahan, mereka merasa sebagai kewajiban dakwah hingga membawa anak-anaknya yang sebenarnya tidak begitu paham dengan film AAC, sama tidak pahamnya dengan ikut kampanye partai politik.

Kombinasi yang ideal; mall sebagai media pasar, film AAC sebagai ruang dan sentimen agama yang ada di dalamnya, telah menegaskan hubungan simbiosis-mutualistik. Pasar mengeruk keuntungan dan tidak peduli dengan ideologi yang tersirat dalam film. Karena yang ada dalam hukum pasar adalah laku, terjual, laris, dan tentu untung. Maka logika ini bertemu secara simbiosis-mutualistik, ketika pasar menemukan novel AAC karya Habiburrahman el-Shirazy dan sukses terjual ribuan eksemplar. Dengan sentimen agama yang melekat pada novel AAC dan masyarakat yang sedang gandrung dengan gairah agama, maka pasar pun meresponnya sebagai peluang bisnis. Di sisi lain, agama butuh media yang mudah dimengerti masyarakat. Film adalah media efektif untuk mendakwahkan agama secara mudah dan efisien. Maka kombinasi pasar dan agama bertemu saling mengambil keuntungan.

Ironisnya lagi, media sebagai salah alat kontrol publik terjebak dalam arus ini sehingga tidak fair dalam memberitakan film AAC. Salah satu televisi swasta yang mendukung kesuksesan film AAC justru terlibat langsung, terutama dengan logika pasar yang dimainkannya, sehingga tidak ada satu pun kata berbeda untuk menilai film AAC. Lihat saja, seluruh komentator yang diwawancarai menyatakan bahwa film AAC adalah film bagus dan hebat, dan tidak memberi ruang kepada komentar yang berbeda. Tentu saja, jalan yang diambil media ini ingin menciptakan opini publik yang sama dan seragam, terutama untuk menghipnotis publik untuk kepentingan bisnisnya. Dalam kasus ini, media tidak tampil sebagai ruang publik yang netral, malah terjebak dalam permainan pasar.

Tak heran jika kesuksesan yang diraih film AAC direplikasi film lainnya, ”Mengaku Rasul” yang sudah diputar di bioskop-bioskop. Begitu juga direplikasi dengan sinetron ”Munajah Cinta” yang memiliki karakter hampir sama dengan film AAC. Kesemuanya ini adalah upaya untuk meraih keuntungan bisnis dengan justifikasi agama.

Kombinasi antara agama dan pasar serta didukung media yang kuat sebenarnya bersifat simbolis dan hanya menjadi rentetan perselingkuhan agama dan pasar dalam gerak modernitas. Apa yang dikemukakan Berger sebagai ”gerakan sekularisasi tandingan” terwujud dalam sekularisasi agama untuk kapitalisme (pasar dan modal). Apakah ini bisa dimaknai sebagai kesempatan, peluang, atau tidak mau kalah dengan sekularisme liberal yang menihilkan peran agama. Ataukah ini sebagai agamaisasi sekularisasi. Lantas di manakah revolusi agama untuk keadilan sosial dan ekonomi.[]

** Sumber: Artike dari http://www.Islamlib.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: